Menghapus Satu
Dari Sejuta Hari di Dalam Hidup
Pagi itu suara
kicauan burung menyerang tajam di telinga. Burung – burung berkicau senada
mendendangkan lagu menggambarkan indah dan segar angin menyejukkam jiwa.
Sesekali terdengar suara teriakan para penjual yang sedang berkililing di
daerah kompleks perumahan untuk mencari nafkah dengan meneriakkan jualannyanya.
Berharap mendapatkan cukup rezeki untuk membiayai kebutuhan keluarga nya.
Berbeda dengan
keadaan di luar yang riuh, suasana sunyi di sebuah kamar gelap, hanya diterangi
sinar matahari yang masuk melalui sela – sela
jendela kamarnya yang kecil.Terlihat tumpukkan novel yang berserakan di
atas tempat tidur itu seseorang masih terbaring dan tak ingin melakukan aktivitas
apapun untuk hari ini. Hari ini adalah hari dimana ibunya di panggil oleh yang
kuasa, satu hari yang ingin dia lupakan dari berjuta hari yang telah dilaluinya
karena kenangan pahit, sedih dan kecewa yang timbul di hari tersebut.
Dia adalah Rina
Veronika, seorang mahasiswi Akuntansi sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Malang.
Terhitung sejak 3 tahun lalu Ia menginjakkan kaki di kota idaman Nan sejuk
tersebut untuk menimba ilmu di Universitas Negeri Malang. Kota malang merupakan
tujuan akhir yang ingin dia tuju agar terhindar dari pengawasan Ayah dan Ibu
tirinya. Perempuan yang sering disapa dengan panggilan Ria, lahir di Kalimantan
dan merupakan anak tunggal dikeluarganya.
“ Aku berharap
bisa melupakan hari ini di dalam hidupku. Aku ingin menghapus setiap detik,
menit kejadian menyakitkan 5 tahun silam yang terjadi dalam memori ingatanku.”
Ucapnya terisak sambil menatap foto yang di genggamnya.
Semua hal
indah yang terjadi dalam hidupnya sirna seketika bersama mimpi indahnya.
Kehidupan yang sempurna dari keluarga yang harmonis dan kasih sayang dari kedua
orang tuanya tak bisa ia rasakan lagi sejak di tinggal Ibu kandungnya 5 tahun
yang lalu. Rina merupakan seorang anak yang manja hal ini karena dia merupakan
anak tunggal sehingga kedua orang tuanya sangat menjaganya. Terlihat saat Rina duduk
di sekolah Dasar, setiap pagi ibu dan ayah akan selalu menyiapkan segala
kebutuhan Rina tanpa kurang satu apapun.
“ Rina… bangun,
Nak! Sudah jam 7 nanti kamu telat kesekolahnya sayang.” Ucap ibunya yang membujuknya.
“ Ahh… Ibu aku
mohon 30 menit lagi yah, Bu.” Sahut Rina.
“ Nanti ayah
ajakin kamu belanja sepulang sekolah, ayo cepat bergegas.” Bujuknya.
“ Dengarkan
apa yang di katakana ayah, ayo cepat! Ibu sudah siapin sarapan dan segala kebutuhan
sekolah kamu, Nak.” Kata ibu.
Mendengar apa
yang dikatakan Ayah dan Ibunya Rina pun bergegas bangun. Momen itulah yang
selalu terjadi setiap pagi kala Rina malas ke sekolah. Kedua Orang tuanya akan
membujuk dengan berbagai hal agar dia bisa mendengar Orang tuanya. Karena jarak
rumahnya lumayan jauh dengan sekolah Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang Tentara
pun akan selalu mengantarnya pergi dan pulang sekolah. Ayahnya akan menunggu di
depan gerbang sekolah dan menatap satu persatu setiap murid yang keluar untuk
mencari Rina. Hal itu dilakukan ayahnya karena tidak ingin kejadian yang sama
terulang kembali pada anak semata wayangnya itu, karena Rinapernah jatuh dan
terseret Motor karena saat itu dia yang tengah kabur dari Ayahnya dan pulang
bersama teman kelasnya yaitu Sari dan
Ika.
“ Aku akan
mengalihkan pandangan Ayah mu , jadi kau bisa kabur hari ini.“ Kata Sari.
“ Tapi aku
takut, Ayahku pasti akan menemukan ku.“ Sahut Rina khawatir.
“ Tenanglah,
Sari akan mengecohkan Ayah mu dan aku akan membantu mu bersembunyi di balik
teman – teman yang keluar gerbang agar tidak terlihat oleh Ayah mu.” Ucap Ika.
Mereka pun
mulai mengatur rencana Rina lolos pada hari itu. Mereka bertiga pun pulang bersama
menggunakan sepeda motorn milik Ika, saat beberapa meter dari sekolah, Rina
yang duduk dipaling belakang terjatuh karena Rok sekolahnya tersangkut di dalam
ban motor sehingga membuat Rina terseret sekitar beberapa meter. Semua orang
kaget dan Ayahnya yang saat itu menemukan Rina sedang di kerumuni teman – teman
sekolahnya. Ayahnya segera membawa Rina ke Puskesmas untuk mendapatkan
perawatan.
Berbagai
moment tercipta terus – menerus dalam keluarga Rina sampai suatu saat Ia di
kejutkan oleh berita bahwa sang ibu tengah berada di rumah sakit. Saat itu Ia
duduk di kelas 5 SD, Ibunya telah diketahui mengidap Penyakit Kanker Payudara,
itu di ketahui orang tuanya saat mereka melakukan perjalanan dinas di Jakarta
dan kebetulan Rina tidak bisa pergi bersama kedua Orang tuanya. Dia di titipkan
bersama kakak sepupunya Tika yang kebetulan sedang libur Semester.
Beberapa bulan
Sebaliknya dari perjalanan dinas, tiba – tiba ibunya yang kala itu sedang duduk
di ruang tamu roboh seketika membuat Rina kaget dan berteriak.
“
Ibu..Ibu….Ibu kenapa....” Ucap Rina panic.
“ Ayah …Ayah
cepat kesini Ibu tiba – tiba saja pingsan.” Panggil ayahnya sedang berada di
teras rumah.
Mereka pun
segera membawa Ibunya ke rumah sakit mendapat pertolongan. Rina yang tidak
pernah mengalami kejadian tersebut menangis sambil menggenggam tangan ibunya.
Ayahnya pun menenangkannya sambil berkata bahwa ibu hanya kecapean saja namun
hal itu tak membuat Rina berhenti menangis. Selang satu jam pun, ibu nya sadar
dan Rina langsung memeluk ibunya. Dokter segera datang dan memeriksa Ibu nya
dan memanggil Ayah nya untuk berbincang sebentar tentang kondisi Istrinya itu. Tak
sengaja ditengah pembicaraan, Rina mendengar percakapan mereka. Rina saat itu
tengah perjalanan ke toilet. Ia kemudian berlari dan terdiam seketika setelah
mendengar percakapan antara Ayahnya dan Dokter. Ia tak tahu apa yang harus
dilakukannya. Seketika Ia terjatuh di lantai, kakinya lemas seakan tak punya
kekuatan untuk bangkit setelah mendengar apa yang terjadi pada Ibunya. Ia
menangis sejadi – jadinya dan pandangannya kosong pikirannya di hantui oleh
ketakutan bahwa ibunya akan meninggalkannya .
“ Aku tidak
ingin Ibu pergi meninggalkanku sendiri. Bagaimana caranya aku akan hidup tanpa
ibu.” Ucapnya sambil menangis.
Pikiran itu membuatnya
tak bisa menahan air mata yang menetes di pipinya. Sejenak dia terdiam dan
merenung, apa yang harus dia lakukan saat kembali nanti di kamar dan bagaimana
dia harus menghadapi Ibu dan Ayahnya yang ternyata telah menyembunyikan
Penyakit ibunya, kemudian dia pun segera
menghapus air mata dan kembali ke kamar perawatan ibunya seperti tidak terjadi
apa –apa, dia duduk memandangi ibunya yang sedang terbaring tak berdaya di
kamar perawatan.
“ Ya Allah , Engkaulah Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Hamba mohon kepadamu sembuhkan lah ibu seperti sedia kala. Angkatlah
penyakitnya dan buatlah dia bisa tersenyum seperti sedia kala. Hamba mohon
kepadamu, aku ikhlas kalau aku saja yang merasakan sakit itu jangan ibuku Ya
allah.“ Sambil menatap ibunya tanpa sadar air mata telah membasahi pipi mungilnya.
Berminggu –
minggu sudah ibunya di rawat di rumah sakit dengan berbagai pengobatan yang
sudah di jalaninya. Rina selalu semangat pada Ibunya, dia selalu tetap tersenyum
di depan ibunya agar ibunya tidak patah semangat. Namun, tidak ada perubahan
pun dari penyakitnya tersebut. Ayahnya mengatakan ke dokter untuk dilakukan
operasi dan hal itu disetujui. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh Ayahnya salah
satunya dana untuk operasi. Namun, takdir hidup dan mati setiap manusia telah
di gariskan oleh Allah Swt. Beberapa minggu sebelum direncanakan operasi Ibunya
telah di panggil menghadap sang kuasa. Rina mendengar kabar tersebut saat dia
sedang mengikuti pelajaran di Sekolahnya. Tiba – tiba kakak sepupunya mengetuk dengan
pelan pintu kelas Rina dan seketika Wali kelas pun menghampiri nya. Dengan
wajah cemas dan mata yang membengkak dia meminta ijin untuk menjemput Rina
karena kabar Ibunya meninggal.
Tanpa
mengetahuinya, Rina ikut bersama kakak sepupunya. Di tengah perjalanan kakak
sepupunya memberi tahu Rina dengan sangat hati – hati.
“ Rina… kamu
jangan kaget yah , ada yang ingin kakak sampaikan.“ Ucap kak Tika.
“ Iya ada apa,
Kak ? apa ini tentang Ibu ? jawab aku kak.“ Ucap nya cemas.
“ Ibu..ibu
kamu meninggal Rin, kakak juga baru dapat kabar dari Ayah kamu. Sempat
kondisinya kritis terus nyari – nyari kamu tapi kamu lagi di sekolah tadi.” Ucap
kak Tika.
Kata – kata yang
keluar dari mulut Kak Tika membuat ku terdiam tak bisa berpikir apapun. Seketika
pandanganku gelap dan air mataku bahkan terasa membeku bersama pikiran yang
merasa dunia menggelap tanpa ada sinar sedikitpun, akupun pingsan tak sadarkan
diri dalam perjalanan itu. Saat sadar aku sudah berada di kamarku, pandangan
masih terlihat abu – abu. Kak tika yang berada di dekatku pun mencoba menyadarkan
dan membuat ku bangun. Aku mendengar lantunan Al. qur’an dari luar kamar.
Membuatku berlari keluar kamar dan mencoba mendekati ibuku yang telah terbaring
tak berdaya.
Hari – hari
yang Rina lalui sepeninggal ibunya membuatnya belum bisa melakukan aktivitasnya
seperti semula. Setelah setahun berlalu, terdengar kabar bahwa Ayah nya akan
menikah lagi. Rina menolak dengan keras. Ia pun mencoba
menggantikan peran ibunya dengan baik dalam pekerjaan rumah walaupun dia tidak
pandai dalam memasak agar Ayahnya bisa menghilangkan keinginannya untuk menikah
lagi. Suatu hari sepulan sekolah dia membuatkan makan siang berharap ayahnya
dapat menikmati masakannya. DIa menunggu di ruang tamu tak lama kemudian Ayahnya
pulang dan segera mengajaknya menuju meja makan.
“ Ayah , Rina
udah masak makan siang.” Ucapnya penuh harap.
“ Iya , Entar
Ayah ke situ ya.” Jawabnya.
Kemudian
ayahnya menuju ke meja makan dan siap menyantap makanan buatan Rina. Melihat
hal itu Rina sangat bahagia. Tapi Ayahnya tiba –tiba berhenti makan dan
melempar seluruh makanan yang ada di piring ke wajah Rina sontak dia kaget dan
tak bisa berkata apapun
“ Jadi, ini
yang akan kau masakan setiap hari untuk Ayah. Makanan asin seperti ini yang
akan kau berikan untuk Ayahmu setiap hari.” kata Ayahnya sambil membentak.
“ Rina hanya
terdiam sambil berlinang air mata”.
“ Kenapa tidak
kau izinkan saja Ayah menikah ini juga demi kebaikanmu supaya ada yang
mengurusmu saat Ayah sedang sibuk.” Ucap Ayah Rina dengan tegasnya.
Mendengar
semua perkataan Ayahnya, dia pun berlari ke dalam kamarnya. Dia menangis dan
tak tahu apa yang harus dilakukan, niat baiknya malah di hina seperti itu, dia
pun mencoba bunuh diri dengan meminum beberapa obat yang tersimpan di dalam
kamar sampai mulutnya berbusa dan tergeletak di lantai kamar tidurnya. Ayah dan
calon Ibu tirinya yang saat itu mendapati Rina langsung panic dan segera
menghubungi dokter. Setelah diperiksa diapun sadar dan sudah berada di atas
tempat tidur di sampingnya terdapat calon istri dari ayahnya sedari tadi
merawat Rina,menyadari itu dia segera mengusirnya namun Ayahnya menahan Rina
untuk melakukan itu. Rina yang marah pun berlari sekencang – kencangnya sampai
dia berada di tempat dimana ibunya di kebumikan yang tak jauh dari rumahnya. Di
situ, dia menangis dan meluapkan seluruh amarahnya.
“ Ibu, ayah
tidak menyayangiku lagi. Ayah tidak seperti dulu yang selalu memanjakanku. Ayah
ingin menikah lagi dan melupakan kita. Aku tidak ingin pulang dan tinggal
bersama mereka biarkan saja aku tinggal disini bersama Ibu.“ Sambil menangis.
Namun, ayah
Rina tetap kukuh sama keinginannya untuk menikah walau tanpa persetujuan dari
Rina dan keluarga besarnya, selang satu minggu setelah ayahnya menikah. Ia menemui
Neneknya dan berusaha kabur ke luar kota. Ia tak sanggup untuk hidup bersama
ibu tirinya yang selalu mencari alasan agar dia di marahi dan dipukuli oleh Ayah
nya sendiri. Setelah berhasil sampai di bandara Rina berencana pergi ke malang
dan melanjutkan kuliah disana berkat usulan dari Neneknya. Ayahnya mengetahui kabar
itu segera menyusulnya ke bandara namun pesawat yang Rina naiki sudah lepas
landas sejak 1 jam yang lalu. Di tengah penerbangan, Rina senang bisa terlepas
dari pengawasan ibu tirinya namun tidak kuat harus meninggalkan ayah dan Ibu
kandungnya bersama semua kenangan bersama keluarganya dulu. Kenangan masa kecil
adalah masa yang paling indah saat keluarganya masih lengkap seperti dulu.
Setiap detik moment yang tercipta teringat jelas di kepalanya. Moment indah
tanpa ada sandiwara yang mengalir begitu sederhana tanpa ada beban juga masalah
yang akan berujung sakit dan tak mungkin bisa terulang kembali.
Rinapun
menjalani hari dengan membuka lembar baru di hidupnya. Kuliah sambil kerja
adalah hal pertama terlintas dipikirannya sesampainya dia di kota Malang. Kerja
untuk membiayai segala kebutuhannya. Kadang – kadang Neneknya pun mengirimkan
uang jajan untuk Rina. Sampai sekarang dia tidak tahu bagaimana kabar ayahnya
dan ia tidak ingin mengetahuinya. Ia yakin bisa melalui semua itu sendiri dan
tidak berniat sekalipun untuk menghubungi ayahnya untuk sekedar bertanya
keadaan Ayahnya tersebut. Rasa sakit dan kecewa masih jelas ia rasakan, dia berharap
sekalipun tidak mengetahui kabar ayahnya , semoga ayahnya selalu di berikan
kesehatan dan umur panjang karena bagaimanapun hubungan ayah dan anak perempuan
adalah sakral dan istimewa tidak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun itu. Dia
akan berusaha agar bisa sukses tanpa Ayah dan ibunya. Ia ingin menunjukan
kepada mereka bahwa dia bisa lebih baik lagi tanpa mereka dan bisa hidup
mandiri.
Biodata
penulis :

Jumrahyana,
lahir di Raha, Sulawesi tenggara, 10 Oktober 1997. Saat ini tercatat sebagai
Mahasiswi S1 Farmasi di Universitas Indonesia Timur, Makassar. Ia mulai
menekuni dunia literasi saat duduk di dunia perkuliahan dan terus menulis untuk
mengasah dirinya. Salah satu cerpen yang di tulisnya yaitu . Cahaya Ramadhan dari Negeri Ginseng(2019)
yang di terbitkan dalam buku Edisi Ramadhan mendatang. Kini ia masih aktif
sebagai Mahasiswa Farmasi tingkat akhir dan masih tetap mendalami dunia
kepenulisan. Medsos: IG@yana_jmr.