Saturday, August 29, 2020

puisiku : SUGESTI KEBAHAGIAAN

 

 

Jumrahyana

SUGESTI KEBAHAGIAAN

 

Sugesti kebahagiaan

Tak hanya ilusi semata

Tapi selalu ada di setiap jiwa mahkluk hidup

Yang bertebaran di setiap angan – angan

 

Sugesti kebahagiaan

Tak bisa terkontrol keberadaannya

Selalu hadir dan memenuhi seluruh perasaan

Dan menjelaskan bahwa dirinya bukan sekedar utopia,

dalam setiap realita hidup manusia

 

Sugesti kebahagiaan

Bukan sekedar halusinasi

Bukan juga hal abstrak berwujud konsekuensi logis semata

Tapi ia nyata dalam diri berwujud euphoria yang akan selalu mendekapmu

 

Sugesti kebahagiaan

Adalah kunci utama dalam memaknai setiap kehidupan

Agar hidup menjadi lebih fleksibel

Karena disetiap kejadian memiliki makna tersirat,

dengan maksud memberi sebuah kekuatan

 

Makassar, 01 Maret 2019

 

 

 

 

Biodata Penulis :

 

Jumrahyana,lahir di Raha,Sulawesi tenggara, 10 Oktober 1997. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswi S1 Farmasi di salah satu perguruan tinggi di Universitas Indonesia Timur, Makassar. Ia mulai menekuni dunia literasi saat duduk di dunia perkuliahan dengan mengikuti berbagai seminar kepenulisan untuk mengasah dirinya. Jejaknya bisa di lihat melaui akun IG @yana_jmr.

 

 

 

 

puisiku : CUBITAN SAYANG BIDADARI TAK BERSAYAP

 

CUBITAN SAYANG BIDADARI TAK BERSAYAP

 

Cubitan sayang bidadari tak bersayap

Dialah yang selalu ku panggil Ibu

Dengan beribu jasanya yang tak mampu ku balas

Walaupun kuberikan ribuan kemewahan

 

Cubitan sayang bidadari tak bersayap

Semakin lama rasa cubitan itu makin menghilang

Semakin lama warna cubitan itu makin memudar

Cubitan menghilang, kasih sayang tetap melekat

 

Cubitan sayang bidadari tak bersayap

Menjadi dewasa kini membuatku sadar

Betapa sangat berartinya cubitan sayang itu

Sebagai penyemangat menaklukan dunia demi kesuksesan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis :

 

Jumrahyana, lahir di Raha, Sulawesi tenggara, 10 Oktober 1997. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswi S1 Farmasi di Universitas Indonesia Timur, Makassar. Ia mulai menekuni dunia literasi saat duduk di dunia perkuliahan dengan mengikuti berbagai seminar kepenulisan & terus mengasah dirinya. Puisi Cubitan sayang bidadari tak bersayap merupakan puisi yang di persembahkan kepada keluarga terutama Ibunya sebagai bentuk ungkapan rasa sayang. Adapun salah satu puisi lain yang ditulisnya yaitu Aku dan Langkahku (2019).Dan Cerpen pertamanya juga diterbitkan dalam Antologi ramadhan; Cahaya Ramadhan Dari Negeri Ginseng. Kini ia masih aktif sebagai Mahasiswa  Farmasi tingkat akhir dan masih tetap mendalami dunia kepenulisan. Jejaknya bisa di lihat melaui akun IG @yana_jmr.

puisiku : SINGKAT NAMUN MEMBEKAS

 


SINGKAT NAMUN MEMBEKAS

 

Dibawah langit biru bersama teriknya sinar matahari

Ia muncul dengan kharisma yang mencolok

Membuat mataku tak berhenti menatap sosok indah itu

Sebuah pertemuan singkat namun membekas

Menimbulkan rasa kekaguman mendalam

Menyisahkan beribu penyesalan atas kata yang tak terucap

 

Ia pria sosok berjas putih yang tampak gagah

Dengan stetoskop berkalung di lehernya

Perlahan berjalan melewatiku langkah demi langkah

Bersama cahaya ketulusan yang terpancar dari sorot matanya

Membuat jantung berdetak tak karuan dan,

 hati berdesir hebat

 

Sebuah pertemuan singkat namun membekas

Membuatku tanpa sadar merekam sosok indah itu

Sehingga bayangannya selalu muncul disetiap malam tiba

Muncul sebagai bunga tidur dalam mimpiku

Berharap pertemuan itu terulang kembali

Agar bibir ini bisa belajar untuk tak beku di depannya

Sehingga mampu mengucap kata sapaan yang pernah tak terucap

 

Makassar, 06 Maret 2019

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis :

 

            Jumrahyana, lahir di Raha, Sulawesi Tenggara,10 Oktober 1997. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswi S1 Farmasi di Universitas Indonesia Timur, Makassar. Ia mulai menekuni dunia literasi saat duduk di dunia perkuliahan dan terus mengasah dirinya. Adapun puisi lain yang ditulisnya yaitu Aku dan Langkahku (2019), Cubitan sayang bidadari tak bersayap (2019). Dan Cerpen pertamanya akan diterbitkan dalam Antologi ramadhan; Cahaya Ramadhan Dari Negeri Ginseng. Kini ia masih aktif sebagai Mahasiswa  Farmasi tingkat akhir. Jejaknya bisa di lihat melaui akun IG @yana_jmr.

 

 

puisiku : Kini Aku

 Kini Aku


Kini Aku

 

Kini aku sadar

Semua yang kulakukan

Tak berharga di matamu

Bagaikan angin yang berlalu pergi

Menghempas dan menjatuhkan dedaunan

Hingga membuat sang pohon tampak menyedihkan

 

Begitu juga yang kau lakukan padaku

Semua perasaanku kini kau hempas

Kau bawa pergi bersama dirimu

Hingga menyisahkan noda hitam yang membekas

 

Kini aku memilih pergi

Dan takkan lagi menjadi payungmu

Yang melindungimu saat teriknya matahari

Yang melindungimu dari derasnya hujan malam.


Biodata penulis :

 

 

Jumrahyana, lahir di Raha, Sulawesi tenggara, 10 Oktober 1997. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswi S1 Farmasi di Universitas Indonesia Timur, Makassar. Ia mulai menekuni dunia literasi saat duduk di dunia perkuliahan dan terus menulis untuk mengasah dirinya. Salah satu cerpen yang di tulisnya yaitu . Cahaya Ramadhan dari Negeri Ginseng(2019) yang di terbitkan dalam buku Edisi Ramadhan mendatang. Kini ia masih aktif sebagai Mahasiswa Farmasi tingkat akhir dan masih tetap mendalami dunia kepenulisan. Medsos: IG@yana_jmr.


cerpenku : Menghapus Satu Dari Sejuta Hari di Dalam Hidup

 

Menghapus Satu Dari Sejuta Hari di Dalam Hidup

Pagi itu suara kicauan burung menyerang tajam di telinga. Burung – burung berkicau senada mendendangkan lagu menggambarkan indah dan segar angin menyejukkam jiwa. Sesekali terdengar suara teriakan para penjual yang sedang berkililing di daerah kompleks perumahan untuk mencari nafkah dengan meneriakkan jualannyanya. Berharap mendapatkan cukup rezeki untuk membiayai kebutuhan keluarga nya.

 

Berbeda dengan keadaan di luar yang riuh, suasana sunyi di sebuah kamar gelap, hanya diterangi sinar matahari yang masuk melalui sela – sela  jendela kamarnya yang kecil.Terlihat tumpukkan novel yang berserakan di atas tempat tidur itu seseorang masih terbaring dan tak ingin melakukan aktivitas apapun untuk hari ini. Hari ini adalah hari dimana ibunya di panggil oleh yang kuasa, satu hari yang ingin dia lupakan dari berjuta hari yang telah dilaluinya karena kenangan pahit, sedih dan kecewa yang timbul di hari tersebut.

 

Dia adalah Rina Veronika, seorang mahasiswi Akuntansi sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Malang. Terhitung sejak 3 tahun lalu Ia menginjakkan kaki di kota idaman Nan sejuk tersebut untuk menimba ilmu di Universitas Negeri Malang. Kota malang merupakan tujuan akhir yang ingin dia tuju agar terhindar dari pengawasan Ayah dan Ibu tirinya. Perempuan yang sering disapa dengan panggilan Ria, lahir di Kalimantan dan merupakan anak tunggal dikeluarganya.

“ Aku berharap bisa melupakan hari ini di dalam hidupku. Aku ingin menghapus setiap detik, menit kejadian menyakitkan 5 tahun silam yang terjadi dalam memori ingatanku.” Ucapnya terisak sambil menatap foto yang di genggamnya.

 

Semua hal indah yang terjadi dalam hidupnya sirna seketika bersama mimpi indahnya. Kehidupan yang sempurna dari keluarga yang harmonis dan kasih sayang dari kedua orang tuanya tak bisa ia rasakan lagi sejak di tinggal Ibu kandungnya 5 tahun yang lalu. Rina merupakan seorang anak yang manja hal ini karena dia merupakan anak tunggal sehingga kedua orang tuanya sangat menjaganya. Terlihat saat Rina duduk di sekolah Dasar, setiap pagi ibu dan ayah akan selalu menyiapkan segala kebutuhan Rina tanpa kurang satu apapun.

“ Rina… bangun, Nak! Sudah jam 7 nanti kamu telat kesekolahnya sayang.” Ucap ibunya yang membujuknya.

“ Ahh… Ibu aku mohon 30 menit lagi yah, Bu.” Sahut Rina.

“ Nanti ayah ajakin kamu belanja sepulang sekolah, ayo cepat bergegas.” Bujuknya.

“ Dengarkan apa yang di katakana ayah, ayo cepat! Ibu sudah siapin sarapan dan segala kebutuhan sekolah kamu, Nak.” Kata ibu.

Mendengar apa yang dikatakan Ayah dan Ibunya Rina pun bergegas bangun. Momen itulah yang selalu terjadi setiap pagi kala Rina malas ke sekolah. Kedua Orang tuanya akan membujuk dengan berbagai hal agar dia bisa mendengar Orang tuanya. Karena jarak rumahnya lumayan jauh dengan sekolah Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang Tentara pun akan selalu mengantarnya pergi dan pulang sekolah. Ayahnya akan menunggu di depan gerbang sekolah dan menatap satu persatu setiap murid yang keluar untuk mencari Rina. Hal itu dilakukan ayahnya karena tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali pada anak semata wayangnya itu, karena Rinapernah jatuh dan terseret Motor karena saat itu dia yang tengah kabur dari Ayahnya dan pulang bersama teman kelasnya  yaitu Sari dan Ika.

“ Aku akan mengalihkan pandangan Ayah mu , jadi kau bisa kabur hari ini.“ Kata Sari.

“ Tapi aku takut, Ayahku pasti akan menemukan ku.“ Sahut Rina khawatir.

“ Tenanglah, Sari akan mengecohkan Ayah mu dan aku akan membantu mu bersembunyi di balik teman – teman yang keluar gerbang agar tidak terlihat oleh Ayah mu.” Ucap Ika.

Mereka pun mulai mengatur rencana Rina lolos pada hari itu. Mereka bertiga pun pulang bersama menggunakan sepeda motorn milik Ika, saat beberapa meter dari sekolah, Rina yang duduk dipaling belakang terjatuh karena Rok sekolahnya tersangkut di dalam ban motor sehingga membuat Rina terseret sekitar beberapa meter. Semua orang kaget dan Ayahnya yang saat itu menemukan Rina sedang di kerumuni teman – teman sekolahnya. Ayahnya segera membawa Rina ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan.

 

Berbagai moment tercipta terus – menerus dalam keluarga Rina sampai suatu saat Ia di kejutkan oleh berita bahwa sang ibu tengah berada di rumah sakit. Saat itu Ia duduk di kelas 5 SD, Ibunya telah diketahui mengidap Penyakit Kanker Payudara, itu di ketahui orang tuanya saat mereka melakukan perjalanan dinas di Jakarta dan kebetulan Rina tidak bisa pergi bersama kedua Orang tuanya. Dia di titipkan bersama kakak sepupunya Tika yang kebetulan sedang libur Semester.

 

Beberapa bulan Sebaliknya dari perjalanan dinas, tiba – tiba ibunya yang kala itu sedang duduk di ruang tamu roboh seketika membuat Rina kaget dan berteriak.

“ Ibu..Ibu….Ibu kenapa....” Ucap Rina panic.

“ Ayah …Ayah cepat kesini Ibu tiba – tiba saja pingsan.” Panggil ayahnya sedang berada di teras rumah.

Mereka pun segera membawa Ibunya ke rumah sakit mendapat pertolongan. Rina yang tidak pernah mengalami kejadian tersebut menangis sambil menggenggam tangan ibunya. Ayahnya pun menenangkannya sambil berkata bahwa ibu hanya kecapean saja namun hal itu tak membuat Rina berhenti menangis. Selang satu jam pun, ibu nya sadar dan Rina langsung memeluk ibunya. Dokter segera datang dan memeriksa Ibu nya dan memanggil Ayah nya untuk berbincang sebentar tentang kondisi Istrinya itu. Tak sengaja ditengah pembicaraan, Rina mendengar percakapan mereka. Rina saat itu tengah perjalanan ke toilet. Ia kemudian berlari dan terdiam seketika setelah mendengar percakapan antara Ayahnya dan Dokter. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Seketika Ia terjatuh di lantai, kakinya lemas seakan tak punya kekuatan untuk bangkit setelah mendengar apa yang terjadi pada Ibunya. Ia menangis sejadi – jadinya dan pandangannya kosong pikirannya di hantui oleh ketakutan bahwa ibunya akan meninggalkannya .

“ Aku tidak ingin Ibu pergi meninggalkanku sendiri. Bagaimana caranya aku akan hidup tanpa ibu.” Ucapnya sambil menangis.

Pikiran itu membuatnya tak bisa menahan air mata yang menetes di pipinya. Sejenak dia terdiam dan merenung, apa yang harus dia lakukan saat kembali nanti di kamar dan bagaimana dia harus menghadapi Ibu dan Ayahnya yang ternyata telah menyembunyikan Penyakit ibunya,  kemudian dia pun segera menghapus air mata dan kembali ke kamar perawatan ibunya seperti tidak terjadi apa –apa, dia duduk memandangi ibunya yang sedang terbaring tak berdaya di kamar perawatan.

 “ Ya Allah , Engkaulah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hamba mohon kepadamu sembuhkan lah ibu seperti sedia kala. Angkatlah penyakitnya dan buatlah dia bisa tersenyum seperti sedia kala. Hamba mohon kepadamu, aku ikhlas kalau aku saja yang merasakan sakit itu jangan ibuku Ya allah.“ Sambil menatap ibunya tanpa sadar air mata telah membasahi pipi mungilnya.

 

Berminggu – minggu sudah ibunya di rawat di rumah sakit dengan berbagai pengobatan yang sudah di jalaninya. Rina selalu semangat pada Ibunya, dia selalu tetap tersenyum di depan ibunya agar ibunya tidak patah semangat. Namun, tidak ada perubahan pun dari penyakitnya tersebut. Ayahnya mengatakan ke dokter untuk dilakukan operasi dan hal itu disetujui. Berbagai persiapan yang dilakukan oleh Ayahnya salah satunya dana untuk operasi. Namun, takdir hidup dan mati setiap manusia telah di gariskan oleh Allah Swt. Beberapa minggu sebelum direncanakan operasi Ibunya telah di panggil menghadap sang kuasa. Rina mendengar kabar tersebut saat dia sedang mengikuti pelajaran di Sekolahnya. Tiba – tiba kakak sepupunya mengetuk dengan pelan pintu kelas Rina dan seketika Wali kelas pun menghampiri nya. Dengan wajah cemas dan mata yang membengkak dia meminta ijin untuk menjemput Rina karena kabar Ibunya meninggal.

Tanpa mengetahuinya, Rina ikut bersama kakak sepupunya. Di tengah perjalanan kakak sepupunya memberi tahu Rina dengan sangat hati – hati.

“ Rina… kamu jangan kaget yah , ada yang ingin kakak sampaikan.“ Ucap kak Tika.

“ Iya ada apa, Kak ? apa ini tentang Ibu ? jawab aku kak.“ Ucap nya cemas.

“ Ibu..ibu kamu meninggal Rin, kakak juga baru dapat kabar dari Ayah kamu. Sempat kondisinya kritis terus nyari – nyari kamu tapi kamu lagi di sekolah tadi.” Ucap kak Tika.

Kata – kata yang keluar dari mulut Kak Tika membuat ku terdiam tak bisa berpikir apapun. Seketika pandanganku gelap dan air mataku bahkan terasa membeku bersama pikiran yang merasa dunia menggelap tanpa ada sinar sedikitpun, akupun pingsan tak sadarkan diri dalam perjalanan itu. Saat sadar aku sudah berada di kamarku, pandangan masih terlihat abu – abu. Kak tika yang berada di dekatku pun mencoba menyadarkan dan membuat ku bangun. Aku mendengar lantunan Al. qur’an dari luar kamar. Membuatku berlari keluar kamar dan mencoba mendekati ibuku yang telah terbaring tak berdaya.

Hari – hari yang Rina lalui sepeninggal ibunya membuatnya belum bisa melakukan aktivitasnya seperti semula. Setelah setahun berlalu, terdengar kabar bahwa Ayah nya akan menikah lagi. Rina menolak dengan keras. Ia pun mencoba menggantikan peran ibunya dengan baik dalam pekerjaan rumah walaupun dia tidak pandai dalam memasak agar Ayahnya bisa menghilangkan keinginannya untuk menikah lagi. Suatu hari sepulan sekolah dia membuatkan makan siang berharap ayahnya dapat menikmati masakannya. DIa menunggu di ruang tamu tak lama kemudian Ayahnya pulang dan segera mengajaknya menuju meja makan.

“ Ayah , Rina udah masak makan siang.” Ucapnya penuh harap.

“ Iya , Entar Ayah ke situ ya.” Jawabnya.

Kemudian ayahnya menuju ke meja makan dan siap menyantap makanan buatan Rina. Melihat hal itu Rina sangat bahagia. Tapi Ayahnya tiba –tiba berhenti makan dan melempar seluruh makanan yang ada di piring ke wajah Rina sontak dia kaget dan tak bisa berkata apapun

“ Jadi, ini yang akan kau masakan setiap hari untuk Ayah. Makanan asin seperti ini yang akan kau berikan untuk Ayahmu setiap hari.” kata Ayahnya sambil membentak.

“ Rina hanya terdiam sambil berlinang air mata”.

“ Kenapa tidak kau izinkan saja Ayah menikah ini juga demi kebaikanmu supaya ada yang mengurusmu saat Ayah sedang sibuk.” Ucap Ayah Rina dengan tegasnya.

Mendengar semua perkataan Ayahnya, dia pun berlari ke dalam kamarnya. Dia menangis dan tak tahu apa yang harus dilakukan, niat baiknya malah di hina seperti itu, dia pun mencoba bunuh diri dengan meminum beberapa obat yang tersimpan di dalam kamar sampai mulutnya berbusa dan tergeletak di lantai kamar tidurnya. Ayah dan calon Ibu tirinya yang saat itu mendapati Rina langsung panic dan segera menghubungi dokter. Setelah diperiksa diapun sadar dan sudah berada di atas tempat tidur di sampingnya terdapat calon istri dari ayahnya sedari tadi merawat Rina,menyadari itu dia segera mengusirnya namun Ayahnya menahan Rina untuk melakukan itu. Rina yang marah pun berlari sekencang – kencangnya sampai dia berada di tempat dimana ibunya di kebumikan yang tak jauh dari rumahnya. Di situ, dia menangis dan meluapkan seluruh amarahnya.

“ Ibu, ayah tidak menyayangiku lagi. Ayah tidak seperti dulu yang selalu memanjakanku. Ayah ingin menikah lagi dan melupakan kita. Aku tidak ingin pulang dan tinggal bersama mereka biarkan saja aku tinggal disini bersama Ibu.“ Sambil menangis.

Namun, ayah Rina tetap kukuh sama keinginannya untuk menikah walau tanpa persetujuan dari Rina dan keluarga besarnya, selang satu minggu setelah ayahnya menikah. Ia menemui Neneknya dan berusaha kabur ke luar kota. Ia tak sanggup untuk hidup bersama ibu tirinya yang selalu mencari alasan agar dia di marahi dan dipukuli oleh Ayah nya sendiri. Setelah berhasil sampai di bandara Rina berencana pergi ke malang dan melanjutkan kuliah disana berkat usulan dari Neneknya. Ayahnya mengetahui kabar itu segera menyusulnya ke bandara namun pesawat yang Rina naiki sudah lepas landas sejak 1 jam yang lalu. Di tengah penerbangan, Rina senang bisa terlepas dari pengawasan ibu tirinya namun tidak kuat harus meninggalkan ayah dan Ibu kandungnya bersama semua kenangan bersama keluarganya dulu. Kenangan masa kecil adalah masa yang paling indah saat keluarganya masih lengkap seperti dulu. Setiap detik moment yang tercipta teringat jelas di kepalanya. Moment indah tanpa ada sandiwara yang mengalir begitu sederhana tanpa ada beban juga masalah yang akan berujung sakit dan tak mungkin bisa terulang kembali. 

 

Rinapun menjalani hari dengan membuka lembar baru di hidupnya. Kuliah sambil kerja adalah hal pertama terlintas dipikirannya sesampainya dia di kota Malang. Kerja untuk membiayai segala kebutuhannya. Kadang – kadang Neneknya pun mengirimkan uang jajan untuk Rina. Sampai sekarang dia tidak tahu bagaimana kabar ayahnya dan ia tidak ingin mengetahuinya. Ia yakin bisa melalui semua itu sendiri dan tidak berniat sekalipun untuk menghubungi ayahnya untuk sekedar bertanya keadaan Ayahnya tersebut. Rasa sakit dan kecewa masih jelas ia rasakan, dia berharap sekalipun tidak mengetahui kabar ayahnya , semoga ayahnya selalu di berikan kesehatan dan umur panjang karena bagaimanapun hubungan ayah dan anak perempuan adalah sakral dan istimewa tidak bisa digantikan oleh apapun dan siapapun itu. Dia akan berusaha agar bisa sukses tanpa Ayah dan ibunya. Ia ingin menunjukan kepada mereka bahwa dia bisa lebih baik lagi tanpa mereka dan bisa hidup mandiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata penulis :

 

 

Jumrahyana, lahir di Raha, Sulawesi tenggara, 10 Oktober 1997. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswi S1 Farmasi di Universitas Indonesia Timur, Makassar. Ia mulai menekuni dunia literasi saat duduk di dunia perkuliahan dan terus menulis untuk mengasah dirinya. Salah satu cerpen yang di tulisnya yaitu . Cahaya Ramadhan dari Negeri Ginseng(2019) yang di terbitkan dalam buku Edisi Ramadhan mendatang. Kini ia masih aktif sebagai Mahasiswa Farmasi tingkat akhir dan masih tetap mendalami dunia kepenulisan. Medsos: IG@yana_jmr.

Alur Tragedi Dari Sang Ilahi : jumrahyana

 

Alur Tragedi Dari Sang Ilahi

 

Terjangan ombak  perlahan menggerogoti daratan

Begitu dahsyat menggetarkan insan ketakutan

Kebahagiaan lenyap bersama ribuan nyawa tertelan bumi    Keadaan riuh bercampur duka lara

Sebab hilangnya sanak saudara dari pelupuk mata

 

Tragedi tak terlupakan menimpa Negeri kami tercinta

Negeri yang indah dan kokoh seketika hancur lebur

Tak hanya sekali namun beberapa kali

Daku terombang – ambing tanpa arah di daratan luas

Menyisakan air mata sendu tak terbendungkan

 

Ya Rabb inikah bentuk nyata teguranmu?

Inikah balasan atas segala keserakahan kami?

Atas segala perbuatan yang mengundang amarahmu

Sehingga kau hadirkan bencana yang tak mampu dicegah kedatangannya

 

Ya Rabb kutadahkan tanganku seraya memanjat harap

Berikanlah kami kekuatan untuk bangkit kembali

Membangun hati , jiwa dan Negeri ini

Bersama sisa waktu dan harapan yang Engkau beri

 

Hari esok masih ada dan lebih cerah membahagiakan.

Coba meyakini bahwa saat – saat sulit yang kami lalui

Membuat yang terjatuh akan kembali bangkit

Dan setiap bencana yang menimpa terkandung sejuta makna.

 

Makassar, 20 Maret 2019

Biodata Penulis :

Nama Lengkap  : Jumrahyana

Alamat              :  Jl. Rappocini Raya lrg 11C,

                              Buakana, Makassar

TTL                     : Raha, 10 Oktober 1997

Nomor Hp           : 081341544243

Email                   : jumrahhyanaa@gmail.com

Ig                         : @dyana_jmr

cerpen ku : Harapan Di Balik Cucuran Keringat Ibu

 

Harapan Di Balik Cucuran Keringat Ibu

Setiap manusia tentu memiliki seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya. Bagi Dyana, sosok itu adalah seorang Bidadari tak bersayap yang ia panggil Ibu. Sejak kecil, Ibu selalu ada untuknya, memberikan cinta & kasih sayang tanpa menuntut balasan. Hampir seluruh tenaga dan waktu ia habiskan untuk mengurus keluarga. Namun, Ibunya menyisahkan sedikit waktu demi menemani masa pertumbuhan Dyana.

Pagi itu Dyana duduk termenung di temani sinar matahari.

“Ibu, aku ingin Sekolah seperti Kak Dila dan Kak Ali”

“Iya, besok kita coba daftar ke Sekolah ya, Nak!!”.

Begitulah percakapan Pagi antara Dyana dan Ibunya. Kak Dila merupakan anak tetangganya yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SD dan Kak Ali yang merupakan kakak kandungnya yang sekarang sedang berkuliah di luar kota. “Ingin Sekolah” merupakan kalimat yang sering diucapkan Dyana setiap pagi, bahkan ucapan itu telah ratusan kali keluar dari mulut mungilnya.

Keesokan harinya, tibalah mereka di salah satu Sekolah Dasar. Mereka masuk dan mulai mengantri untuk pendaftaran siswa baru.

“Maaf Bu, anaknya belum bisa diterima batas pendaftaran siswa minimal 6 Tahun tunggu setahun lagi baru balik mendaftar”

“Iya, saya tahu anak saya masih berumur 5 Tahun. Tetapi, tolong untuk diterima saja Bu Guru karena anak saya selalu menangis ingin masuk Sekolah. Biar ngak dinaikkin kelas juga ngak apa-apa kok”.

Begitulah percakapan salah satu Guru dengan Ibunya Dyana yang akhirnya anaknya pun diterima dengan syarat. Mereka pun bergegas pulang ke rumah sambil bergandengan tangan. Di tengah perjalanan pulang tiba-tiba Dyana berjongkok dan menatap sebuah kertas kosong.

“(Sambil terbata-bata) I-N-I-I-B-U-S-A-Y-A”. Sambil berjongkok dan membaca kertas kosong.

“Ayo, berdirilah. Nanti sampai dirumah baru dibaca lagi ya!”

Melakukan hal tersebut merupakan kebiasaan Dyana yang selalu ia lakukan saat menemukan kertas kosong yang ditemukannya berserakan di jalan. Hal itu membuat Ibunya tersenyum. Segala kegelishannya hilang melihat tingkah lucu anaknya tersebut.

Demi membayar biaya sekolah Dyana, Ibunya pun mulai membuat Kue dan Es serut dengan maksud akan menjualnya demi membantu pembayaran sekolah. Ibunya bekerja tanpa henti mulai pagi buta dengan membuat berbagai macam kue tanpa sadar hingga malampun tiba. Itu semua beliau lakukan demi anaknya agar bisa mengenyam  pendidikan dan merasakan dunia persekolahan seperti anak-anak lainnya.

“Bu, ayo tidur dulu aku sudah mengantuk”

“Nak, kamu tidur duluan aja yah sama Ayah. Sebentar lagi Ibu selesai kok”

“Tapi aku ingin tidur sama Ibu”(sambil merengek)

“Nak, ini Ibu lakuin supaya Ibu dan Bapak bisa bayar uang sekolah kamu Nak!”

“Ayo, tidur sama Ayah dulu yah, kita tunggu Ibu sampai selesai sambil baca dongeng kesukaan kamu”. Kata Ayah meyakinkan Dyana

“Iya, baiklah”

Itulah yang selalu dilakukan Ibunya, bekerja tanpa henti, cucuran demi cucuran keringat mengering sudah demi anaknya dengan harapan bahwa suatu hari anaknya akan sukses. Lelah mustahil tak dirasakan Ibunya. Namun, mengeluh tidak memberikan hasil yang berarti baginya.

Terdapat sebuah pribahasa “Kasih Sayang Ibu Sepanjang Masa, Kasih Sayang Anak Sepanjang Galah” pasti diantara kita sudah sangat mengenal pribahasa ini. Dimana, arti dari pribahasa tersebut yaitu kasih seorang Ibu kepada anaknya tanpa batas sedangkan kasih anak yang diberikan ke orangtuanya memiliki batasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biodata Penulis :

Nama Lengkap  : Jumrahyana

Alamat              :  Jl. Rappocini Raya lrg 11C,

                              Buakana, Makassar

TTL                     : Raha, 10 Oktober 1997

Nomor Hp           : 081341544243

Email                   : jumrahhyanaa@gmail.com

Ig                         : @dyana_jmr

 

My ramadhan journal#

Precious times🌠 _ my Ramadhan journal " This is My summary when I read Surah Muhammad this morning. There is one paragrap...