LABORATORIUM BIOFARMASEUTIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
LEMBAR KERJA HASIL PRAKTIKUM
PENGHAMBATAN TRANSPOR
AKTIF GLUKOSA
OLEH :
JUMRAHYANA
(15. 201.506)
KELAS : I – 15
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
TIMUR
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN
Senyawa kimia baik berupa nutrient
atau senyawa obat harus melalui berjuta juta membrane agar dapat masuk dan
keluar sel. Senyawa obat harus mencapai reseptornya agar dapat menimbulkan
aktivitas farmakologik atau mencapai mikroba yang terdapat dalam jaringan sel
tubuh manusia. Senyawa kimia tersebut dapat berbentuk anorganik bermuatan
positif seperti kalium, natrium, magnesium, kalium atau yang bermuatan positif
seperti klorida, bikarbonat, fosfat, sulfat. Bentuk Senyawa organic misalnya
glukosa, asam amino, lemak seperti kolesterol, fosfolipid dan lemak netral.
Membrane terdiri dari lipi yang
berpusat ditengah dilapisi protein diluarnya dan mukopolisakarida paling luar.
Bagian luar bersifat hidrofil (suka air) dan liofob (tidak suka minyak), bagian
dalam liofil (suka minyak) dan hidrofob (tidak suka air).
Mekanisme transport melalui membrane dalam
farmakologi disebut mekanisme absorpsi obat. Absorpsi adalah berpidahnya
molekul obat dari tempat absorpsi ke sirkulasi darah (sirkulasi sistemik).
Dalam fisiologi transport membrane hanya dibedakan transport aktif dan
pinositosis , transport pasif (difusi pasif). Transport pasif atau difusi pasif : senyawa yang larut lipid dapat melewati membrane
berdasarkan perbedaan konsentrasi (gradient konsentrasi) senyawa di sebelah
luar dan di dalam membrane. Senyawa ini bagaikan mengalir begitu saja. Transport
pasif ini terutama sangat dipengaruhi oleh kelarutan senyawa dalam lipid. transport aktif atau difusi aktif :
untuk senyawa yang tidak mudah atau kurang larut lipid membrane, agar dapat
meleati membrane maka dia harus ditambah atau direaksikan dengan senyawa
tertentu agar larut lippid membrane, sehingga bisa melewati membrane, senyawa
ini disebut carrier yang artinya zat
pembawa. Setelah senyawa menempel dibagian luar maka seolah – olah karier
tersebut menjemputnya kemudian mengikat atau bereaksi menjadi senyawa tertentu
(kompleks) yang sudah larut lipid membrane, kemudian membawanya ke sebrang tepi
membrane dan dilepaskan.
BAB
II
METODE
KERJA
A.
Alat dan Bahan
a. Alat
a. Aerator
b. Batang
pengaduk
c. Bunsen
d. Gelas
kimia
e. Gunting
bedah
f.
Jarum pentul
g. Kaki
tiga
h. Lap
kasar dan lap halus
i.
Papan bedah
j.
Pinset
k. Pisau
bedah (bisturi)
l.
Statif
m. Stopwatch
n. Spoit
3ml
o. Thermometer
p. Vial
6 buah
b. Bahan
a. Aquadest
b. Batang
kayu manis (Cinamommum cortex)
c. Benang
wol
d. Kloform
e. Glukosa
5%
f.
Kapas
g. Kain
kasa
h. Ringer
laktat
i.
Tikus putih (rattus norvegicus)
B. Waktu
dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan ada hari
Rabu, 01 Februari 2017 pukul 13.00 WIT – selesai. Bertempat di Laboratorium
Biofarmaseutika. Fakultas Farmasi. Universitas Indonesia Timur, Makassar.
C.
Cara kerja
1.
Pembuatan infuse batang kayu manis (Cinamommum
cortex)
a.
Disiapkan alat dan bahan
b.
Ditimbang batang kayu manis (Cinamommum
cortex) sebanyak 10g
c.
Dimasukkan ke dalam gelas kimia dan dilarutkan
ke dalam aquadest 100 ml
d.
Dipanaskan selama ±15 menit pada suhu 90˚C
- 98˚C
e.
Dipertahankan suhunya dan diamkan selama ±30
menit
f.
Dinginkan dan disaring menggunakan kain kasa
lalu dicukupkan dengan aquadest. Hasil penyaringan akan dijadikan sampel
infusa.
2.
Isolasi usus halus (ileum) hewan uji Tikus putih (rattus norvegicus)
a.
Disiapkan alat dan bahan
b.
Hewan uji
Tikus putih (rattus norvegicus) dimasukkan ke dalam gelas kimia lalu
dibius dengan kloroform
c.
Setelah itu, diambil dan diletakkan diatas papan
bedah dan kakinya dijepit dengan jarum pentul
d.
Hewan uji dibedah dari mulut – anus dan diambil
usus halusnya (ileum) dipotong 5 cm sebanyak 2 buah lalu dicuci sampai bersih
dengan menggunakan ringer laktat dan direndam dalam larutan ringer laktat.
3.
Pengujian efek infuse batang kayu manis (Cinamommum
cortex)
a.
Disiapkan alat dan bahan
b.
Diambil usus penyerapan (ileum) disuntikan
glukosa 5% ke dalam ileum, diikat ujung yang satu dengan benang wol
c.
Diambil usus penyerapan (ileum) disuntikan
glukosa 5% + infusa batang kayu manis ke dalam ileum, diikat ujung yang satu
dengan benang wol
d.
Usus halus (ileum) dimasukkan ke dalam gelas
kimia yang berisi ringer laktat 200 ml, kemudian dipanaskan diatas Bunsen pada
suhu 37˚C
lalu diamati pada interval ke 10, 10, 30
e.
Cairan
ringer laktat dipipet 3 ml pada menit 10, 20, 30 dan dimasukkan ke dalam masing
– masing vial dengan menggunakan spoit
f.
Diukur kadar glukosanya dengan spektrofotometer
dengan panjang gelombang 456 nm
g.
Dihitung table ANOVA
D.
Pengamatan dan pengumpulan data
Berdasarkan Pengamatan yang dilakukan dengan cara
membedah tikus putih (Rattus norvegicus) dari dada sampai anus, diambil
ileumnya 5cm sebanyak 2 buah. Kemudian
dicuci dengan ringer laktat dan disuplai oksigen dan dipertahankan suhunya 37˚C.
pada menit ke 10,20,30 dipipet masing- masing 3ml ringer laktat dan dimasukkan
ke dalam botol vial. Dihitung kadar glukosanya dengan spktrofotometer dengan
panjang gelombang 456 nm.
Setelah
dihitung kadar glukosanya akan didapatkan data pada menit ke 10,20,30. Dihitung
pengamatan dalam bentuk table ANOVA
E.
Analisa data
Data
yang didaptkan dari hasil pengamatan pada menit ke 10,20,30. Dilakkan
perhitungan analisis of varian (ANOVA ) dengan cara dihitung derajat bebas (db)
yang terdiri dari db total,db perlakuan dan db galat. Kemudian dihitung jumlah
kuadrat total (jkt) yaitu dengan menghitung JKT perlakuan, JKT galat
selanjutnya dihitung nilai distribusi F(fh) yang terdiri dari f hitung.
Setelah
dilakukan perhitungan data diterapkan dalam table anova. Dari table anova data
yang di peroleh dapat diketahui signifkan atau nonsignifikan. Data yang
diperoleh nonsignifikan jika f hitung lebih kecil dari pada f table.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A.
Hasil pengamatan
1.
Tabel pengamatan
Waktu
(Menit)
|
Perlakuan
|
Jumlah
|
|
Glukosa 5%
|
Glukosa
5% + sampel
|
||
10
|
0,03
|
0,02
|
0,05
|
20
|
0,05
|
0,04
|
0,09
|
30
|
0,09
|
0,06
|
0,15
|
B.
Pembahasan
Berdasarkan pengamatan
yang telah dilakukan terhadap transport aktif glukosa dimana dalam percobaan
ini digunakan hewan uji tikus putih (Rattus norvegicus) dan bagian tubuh yang
digunakan adalah usu halus (ileum) karena didalam ileum terjadi absorpsi glukosa
dan zat- zat terbentuk terurai dan mudah di absorpsi.
Usus halus (ileum) yang
digunakan terlebih dahulu direndam dalam ringer laktat kemudian ileum tersebut
disuntikkan dengan glukosa 5% dan ada yang disuntikkan glukosa 5% + sampel.
Pengamatan dilakukan pada menit 10,20,30 pada suhu 37˚C.
Didalam percobaan ini
digunakan ringer laktat Karena berfungsi sebagai cairan yang akan selalu
menghidupkan sel-sel pada ileum agar keadaan ileum tersebut sama seperti saat masih berada dalam tubuh hewan uji.
Hasil pengamatan dari
perlakuan larutan glukosa 5% terhadap ileum pada menit 10 adalah 0,03 pada
menit ke 20 adalah 0,05 dan pada menit ke 30 yaitu 0,09 dengan y2 =
0,0171. Sedangkan pada larutan glukosa 5% + sampel yaitu pada menit 10 adalah
0,02 pada menit ke 20 adalah 0,04 dan pada menit ke 30 yaitu 0,06 dengan y2 =
0,0171.
Adapun hasil dari f
hitung dari glukosa adalah 0,6248 sedangkan hasil dari f table untuk 0,05
adalah 7,71 dan untuk 0,01 adalah 21,20. Pada hasil perhitungan table anova, f
hitung hitung lebih kecil dari F tabel yang berarti data yang diperoleh non
signifikan atau tidak berbeda nyata.
Adapun faktor- faktor
yang mempengaruhi tingkat kesalhan dalam praktikum, yaitu :
1.
Kurang teliti pada saat praktikum
2.
Cara kerja praktikan yang tidak sesuai dengan prosedur
prakitkum
3.
Alat-alat yang kurang steril
Gambar
pengamatan penghambatan transport aktif glukosa
Keterangan
:
1.
Aerator
2.
Benang wol
3.
Gelas kimia
4.
Ileum (glukosa + sampel)
5.
Ileum (glukosa 5%)
6.
Bunsen
7.
Meja kaki tiga
8.
Ringer laktat
9.
Statif
10.
Selang aerator
11.
Papan alas
12.
Thermometer
BAB V
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil pengamatan yang dilakukan dari percobaan yang diakukan dapat disimpulkan
bahwa :
1. Digunakan ileum tikus putih (Rattus
norvegicus) dalam perobaan ini karena di ileum terdapat tempat terjadinya
penyerapan glukosa.
2. Pada percobaan yang dilakukan pada glukosa 5% terhadap ileum pada menit 10
adalah 0,03 pada menit ke 20 adalah 0,05 dan pada menit ke 30 yaitu 0,09 dengan
y2 = 0,0171. Sedangkan pada larutan glukosa 5% + sampel yaitu pada menit 10
adalah 0,02 pada menit ke 20 adalah 0,04 dan pada menit ke 30 yaitu 0,06 dengan
y2 = 0,0171.
3. Faktor hitung dari glukosa adalah 0,6248
sedangkan hasil dari f table untuk 0,05 adalah 7,71 dan untuk 0,01 adalah
21,20. Pada hasil perhitungan table anova, f hitung hitung lebih kecil dari F
tabel yang berarti data yang diperoleh non signifikan
B.
SARAN
Kami sebagai praktikan mengharapkan bimbingan dan arahan pada
saat praktikum dan penulisn laporan
Kami sebagai praktikan mengharapkan agar alat dan bahan
dilengkapi lagi agar proses praktikum berjalan lancar.
LAMPIRAN
A.
SKEMA KERJA
B.
TABEL PENGAMATAN
Waktu
(menit)
|
Perlakuan
|
total
|
|
Glukosa
5%
|
Glukosa
5% + sampel
|
||
10
|
0,03
|
0,02
|
0,05
|
20
|
0,05
|
0,04
|
0,09
|
30
|
0,09
|
0,06
|
0,15
|
Total
|
0,17
|
0,12
|
0,29
|
Rata
–rata
|
0,056
|
0,04
|
1. Perhitungan
a. Perhitungan derajat bebas (db)
db
total =
total banyaknya pengamatan – 1
=
( 3x2) – 1
=
6-1
=
5
db
perlakuan =
banyaknya perlakuan – 1
=
2 -1
=
1
Db
galat =
db total – db perlakuan
=
5 -1
=
4
b.
Perhitungan jmlah kuadrat (jk)
1.
Total2 = (y2) ij
= (0,03)2
+ (0,02)2 + (0,05)2 + (0,04)2 + (0,09)2
+ (0,06)2
= 0,0009 +
0,0004 + 00025 + 0,0016 + 0,0081 + 0,0036
= 0,0171
2.
Rata-rata = total2
Total banyaknya pengamatan
= (0,029)2
6
= 0,0140167
3.
Perlakuan =
(total perlakuan)2 -
rata –rata
Banyaknya replikasi
= (0,17)2
+ (0,12)2 – 0,0140167
3
= 0,0289 +
0,0144 - 0,0140167
3
= 0,0004166
4.
Galat =
total – jk rata-rata – perlakuan
= 0,0171 - 0,0140167
- 0,0004166
= 0,0026667
c.
Perhitungan jumlah kuadrat total (jkt)
1.
JKT perlakuan =
jumlah kuadrat perlakuan
db
perlakuan
= 0,0004166
1
=0,0004166
2.
JKT galat =
jumlah kuadrat galat
db
galat
= 0,0026667
4
=0,0006667
d.
Pehitungan nilai distribusi F (fh)
1.
F hitung =
JKT perlakuan
JKT galat
= 0,0004166
0,0006667
=0,6248688
TABEL
ANOVA
Sumber
variasi
|
db
|
JK
|
JKT
|
Fh
|
Ft
|
|
0,05
|
0,01
|
|||||
Rata-rata
|
1
|
0,0140167
|
|
|
|
|
perlakuan
|
1
|
0,0004166
|
0,0004166
|
0,6248688*
|
7,71
|
21,20
|
Kekeliruan
|
4
|
0,0026667
|
0,0006667
|
|
|
|
jumlah
|
6
|
0,0171
|
|
|
|
|
Keterangan
= * = non signifikan
Jika
Fh > Ft = signfikan
Fh < Ft= non signifikan
Maka,
0,059
< 7,71 = non signifikan
0,059<21,20
= non signifikan
C.
Foto
pengamatan
1. Pengisian glukosa 5% pada ileum dan glukosa
5% + sampel
2.
pengamatan ileum dalam larutan ringer laktat dan diberi suplai oksigen pada
suhu 37˚C
3. larutan
ringer laktat 3 ml pada gelas kimia yang berisi ileum dengan glukosa 5% pada
menit 10,20 da 30
No comments:
Post a Comment